Sejarah PCM Bubutan

PCMBubutan.com – Muhammadiyah merupakan gerakan dakwah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan tahun 1912 di Yogyakarta, banyak hal yang diajarkan oleh KH. Ahmad Dahlan mempunyai tujuan memurnikan ajaran Islam dari Tahayul, Bid’ah, dan Qurofat, sehingga terbentuknya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya bersumberkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Muhammadiyah organisasi persyarikatan, sehingga organisasi ini sudah teruji dari berbagai elemen. Muhammadiyah berkembang secara pesat mulai dari perkembangan aset-aset yang dimiliki oleh organisasi, Amal Usaha Muhammadiyah tersebar diseluruh Indonesia dimulai dari Sekolah, Rumah Sehat, Universitas, Panti Asuhan, Minimarket, Masjid, dan masih banyak lagi.

Bubutan merupakan sebuah kecamatan di kota pahlawan, letaknya berada ditengah kota. Maka disebut juga kampung “Butotan” sebuah nama dari bahasa kitab jawa, yang memiliki arti “Pintu Gerbang (keraton)”. Di daerah Bubutan atau kecamatan ini banyak histori yang terpendam, karena di kawasan ini dulunya merupakan daerah keraton. Banyak naskah literatur yang berkaitan di kawasan bubutan ini mulai dari Maspatih berasal dari kata Mespati yang memiliki arti wakil patih (wakil raja), lalu berkembang menjadi patih kerajaan majapahit.

Dikawasan bubutan ini dahulu terdapat keraton Suropringgo, yang merupakan sekedar keraton kerabat senior dari keraton Surabaya, Alun-alun Timur, orang dulu menyebut jalan Aloon-aloon wetan (Jalan alun-alun timur), lalu mengalami perubahan nama (berlalu) dikenal juga sebagai markas perjuangan umat Islam para pejuang, laskar-laskar hizbullah, dan para santri ketika sebelum pertempuran 10 November 1945, selain itu bubutan juga menjadi tempat pergerakan Boedi Oetomo sebuah organisasi pemuda yang bergerak dibidang ekonomi, sosial, dan budaya yang didirikan oleh Soetomo tahun 1908 yang dikemudian hari dikenal sebagai tokoh pendiri tersebut sekarang menjadi nama Dr. Soetomo, dan masih banyak lagi tempat bersejarah ataupun runutan sejarah di kawasan Bubutan.

Terlepas dari penjelasan diatas Muhammadiyah dan Bubutan memiliki sejarah tersendiri, sinar matahari Muhammadiyah menyinari kawasan bersejarah ini, tujuan penulis tidak lain ingin memberikan informasi kepada masyarakat terkait kumpulan sejarah perkembangan dakwah Islam berbasis bersejarah. Muhammadiyah adalah organisasi yang tidak bisa diragukan lagi, Muhammadiyah tetap eksis dimana-mana, Bubutan merupakan tempat yang juga menjadi perkembangan salah satu organisasi bersimbolkan matahari, berbagai informasi penulis kumpulkan mulai dari, wawancara kepada tokoh-tokoh lokal, para pimpinan Muhammadiyah yang masih menjabat maupun yang sudah tidak duduk dikepemimpinan Muhammadiyah.

Banyak yang didapatkan penulis untuk mengetahui sejarah penyebaran Muhammadiyah di kawasan Bubutan – kota Surabaya, maka dari itu penulis mengambil judul “Dua Sinar Tetap Mencerahkan, Sang Surya tanpa lelah memberi manfaat untuk Bubutan”. Sejarah ini dipersembahkan untuk para kader Muhammadiyah bubutan agar dapat mengetahui sejarah perkembangan di kawasan Bubutan.

Muhammadiyah merupakan gerakan dakwah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan tahun 1912 di Yogyakarta, banyak hal yang diajarkan oleh KH. Ahmad Dahlan memiliki tujuan memurnikan ajaran Islam dari Tahayul, Bid’ah, dan Khurofat, sehingga terbentuknya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Muhammadiyah organisasi pergerakan, sehingga organisasi ini sudah teruji dari berbagai elemen. Muhammadiyah berkembang secara pesat mulai dari perkembangan asset-aset yang dimiliki oleh organisasi, Amal Usaha Muhammadiyah tersebar diseluruh Indonesia mulai dari Sekolah, Rumah Sehat, Universitas, Panti Asuhan, Minimarket, Masjid, dan lembaga-lembaga lainnya.

Bubutan merupakan sebuah kecamatan di kota pahlawan, letaknya berada ditengah-tengah kota. Nama Bubutan sendiri memiliki makna “Butotan” sebuah nama titik di jawa, yang memiliki arti “Pintu Gerbang (keraton)”. Didaerah Bubutan atau sekitaran bangsal keraton ini tempat yang bersejarah karena memiliki banyak nilai histori. Banyak nama tempat, barang dan dikawasan bubutan ini memiliki keterkaitan berasal dari kata Mataram (keraton), seperti Pakis (wakil wali), Patang puluhan, Keputran, Kapasan, karangasem, bangsal, dan juga Aloon-aloon (alun-alun).

Dikawasan bubutan ini dahulu berdiri keraton Suroropringgo, yang merupakan sebuah bangunan besar yang menjadi keraton Kerajaan Islam Jawa Timur, orang dulu menyebut jalan Aloon-aloon street (Jalan Alun-alun), alun-alun umumnya adalah tempat pertemuan rakyat atau pusat pemerintahan.

Tahun 1945-1950, disekitar jalan pasar besar sebelah selatan Boedi Oetomo, sebuah organisasi pemuda yang bergerak dibidang ekonomi, sosial, dan budaya yang didirikan oleh Soetomo tahun 1908 yang digagas oleh Wahidin Sudirohusodo, gedung tersebut sekarang menjadi makam Dr. Soetomo, dan masih banyak lagi tempat bersejarah ataupun rumah-rumah tua dikawasan Bubutan.

Terlepas dari penjelasan diatas Muhammadiyah dan Bubutan memiliki sejarah tersendiri, sinar matahari Muhammadiyah menyinari kawasan bersinar ini, tujuan penulis tidak lain ingin memberikan informasi dan pembaca agar tidak melupakan sejarah perkembangan dakwah di kawasan berserajah. Muhammadiyah merupakan organisasi yang tidak bisaadiragukan lagi, Muhammadiyah tetap eksis dimana-mana, Bubutan merupakan tempat yang juga menjadi perkembangan salah satu organisasi bersimbolkan matahari, berbagai informasi penulis kumpulkan mulai dari, wawancara kepada tokoh-tokoh lokal, para pimpinan Muhammadiyah yang masih menjabat maupun yang sudah tidak duduk dikepemimpinan Muhammadiyah.

Banyak yang didapatkan penulis untuk mengetahui sejarah penyebaran Muhammadiyah di kawasan Bubutan – kota Surabaya, maka dari itu penulis mengambil judul “Dua Sinar Tetap Mencerahkan, Sang Surya tanpa lelah memberi manfaat untuk Bubutan”. Sejarah ini dipersembahkan untuk para kader Muhammadiyah bubutan agar dapat mengetahui sejarah perkembangan di kawasan Bubutan.

Muhammadiyah di Bubutan

Kegiatan tabligh adalah salah satu ciri khas dakwah yang dilakukan oleh kaum muslimin di kawasan Tembok Gede. Ceramah umum, pengajian rutin, khutbah Jum’at, dan kegiatan lainnya seperti kajian tafsir, hadits, fiqih, dan lain-lain menjadi aktivitas utama yang sangat menonjol di tengah masyarakat. Tidak hanya kaum laki-laki yang aktif, tetapi kaum ibu dan remaja pun turut serta dalam kegiatan dakwah ini. Tali yang ditinggalkan oleh para ulama, seperti Ustadz Alwi, Ustadz Hasyim, Ustadz Muhtar, Ustadz Syukri, dan lain-lain, kini diteruskan oleh kader-kader muda yang tetap berkomitmen dalam menyampaikan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Bubutan dikenal sebagai kawasan Muhammadiyah, yang ditandai dengan banyaknya amal usaha Muhammadiyah yang tersebar di berbagai tempat. Salah satu contoh penting adalah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bubutan. Nama Bubutan yang disampaikan oleh sesepuh PCM Muhammadiyah Cabang Bubutan menggambarkan bahwa kawasan ini menjadi basis dakwah Muhammadiyah yang sangat aktif.

Setelah kepemimpinan H. Hamid, beliau digantikan oleh H. Yusuf. H. Yusuf adalah orang yang selalu menitikberatkan pada pentingnya pengkaderan dan pengembangan sumber daya manusia dalam tubuh Muhammadiyah. Beliau adalah seorang yang memiliki dedikasi tinggi dalam membangun dan mengembangkan persyarikatan. Maka dari itu, tidak berlebihan apabila H. Yusuf ditunjuk menjadi ketua Pimpinan Muhammadiyah Cabang Bubutan.

H. Yusuf dikenal sebagai pribadi yang tegas, sederhana, dan sangat dekat dengan masyarakat. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah Bubutan mengalami banyak kemajuan, terutama dalam bidang pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Usaha-usaha yang dilakukan H. Yusuf di antaranya adalah pembangunan dan pengembangan aset-aset Muhammadiyah, khususnya di bidang pendidikan TK Aisyiah 08 dan SMP Muhammadiyah 15, serta pembangunan Masjid dan sekolah Aisyiyah.

Tahun 1980-an ini merupakan pembangunan serta diplomasi yang baik khususnya di lingkungan TK Aisyiyah 08, termasuk juga dalam usaha perjuangan Islam untuk menyejahterakan umat.

H. Yusuf juga dikenal sebagai tokoh yang dapat menyeimbangkan antara dakwah dan kehidupan sosial. Beliau tidak hanya aktif di Muhammadiyah, tetapi juga menjadi panutan masyarakat sekitar. Banyak pihak yang mengakui bahwa H. Yusuf adalah seorang sosok yang hebat dan layak menjadi teladan.

Menceritakan bahwa ada seorang kader hebat di tempat ini, yang juga pejuang di Muhammadiyah, adalah KH. Anwar Zein yang merupakan Ketua Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur.

Muhammadiyah Bubutan Barat

Tokoh yang sangat berjasa dalam membesarkan Muhammadiyah di Bubutan Barat adalah Bapak M. Siswojo. Beliau adalah tokoh penggerak Muhammadiyah yang benar-benar pejuang untuk Muhammadiyah. Tak hanya waktu yang diberikan, namun tenaga, materi, dan inilah yang membuat Muhammadiyah di Bubutan Barat memiliki banyak amal usaha dan berkembang sangat baik.

Muhammadiyah Bubutan Barat memiliki amal usaha yang cukup banyak: Muhammadiyah Cabang Bubutan Barat memiliki 2 SMP Muhammadiyah, yaitu SMP Muhammadiyah 11 dan SMP Muhammadiyah 12. Nomor urut sekolah memang tidak berurutan, namun untuk SD Muhammadiyah 11 dan SD Muhammadiyah 12 Bubutan Barat menempati lahan yang sama. Bahkan untuk SMP Muhammadiyah 11 dan 12 juga satu lokasi. Muhammadiyah Bubutan Barat memiliki lahan berdirinya lebih dari 1.000 m².

Amal usaha Muhammadiyah Bubutan Barat ini cukup besar dan strategis, karena berada di kawasan Bubutan Barat, mereka berlokasi di tengah kota Surabaya dan akses dapat mencapai berbagai penjuru kota dengan mudah.

Ranting Muhammadiyah Bubutan Barat cukup banyak. Ranting-ranting tersebut adalah Ranting Dupak Baru, Ranting Dupak Jaya, Ranting Babadan Kulon, dan ranting-ranting lain yang tidak disebutkan di sini. Ranting-ranting ini menjadi bagian dari PCM Muhammadiyah Bubutan Barat.